Monday, 5 September 2016

Film Laga dan Rahasia Kemenangan Sang Juara ala surabaya


Pernah menonton film-film yang dibintangi Jet Li, Jackie Chan, Andy Lau atau bintang laga dunia lainnya? Apa kesan anda, ketika dalam adegan pertarungan mereka mampu mengalahkan puluhan bahkan ratusan orang sekaligus? “Takjub!” Itulah kalimat yang mungkin bisa mewakili kekaguman kita kepada para aktor laga tersebut. Dari aksi-aksi menghebohkan itu, pertanyaan selanjutnya, pernahkah kita mencoba mengambil pelajaran? Sesungguhnya hikmah itu berceceran di mana-mana, tak terkecuali dari dunia per-film-an. Namun hal itu tak terkuak bila tak ada usaha untuk mengambilnya. Memfungsikan akal menjadi langkah untuk mengeruk sejuta hikmah di balik samudra kehidupan ini. Di antara yang bisa kita petik pelajarannya dari film-film laga itu, betapa beruntungnya menjadi bintang utama. Di akhir cerita ia pasti keluar sebagai pemenang, sehebat dan sebanyak apapun musuh yang dilawan. Yang harus menjadi catatan, untuk tampil menjadi sang juara itu tidaklah mudah. Karena itu biasanya akan diceritakan pula perjalanan yang ditempuh oleh sang bintang untuk menggapai derajat itu. Dimulai dari latihan yang keras dan disiplin tinggi, hingga pengorbanan yang harus dikeluarkan. Semua diilustrasikan sedemikian rupa. Keseriusannya inilah yang kemudian menjadi jembatan meraih kemenangan demi kemenangan. Dalam setiap aksinya, aktor utama selalu tampil sebagai hero. Nasibnya tidak pernah berakhir tragis. Kemenangan selalu ada di tangannya. Happy Ending selalu menjadi cerita yang meliputi tokoh utama. Dan kepastian selanjutnya, tokoh utama pastilah hanya terdiri dari satu orang, tidak lebih. Kalaupun ada maka itu akan disebut pemeran pembantu. Film Laga dan Kehidupan Dunia Kehidupan ini tak ubahnya adegan film-film laga sebagaimana tergambar di atas; penuh dengan pertarungan. Sejalan dengan itu, ada kalimat hikmah dari Arab “al-Hayaatu’Aqiidatun Wa Jihadun” (Hidup adalah perkara keyakinan dan jihad atau pertarungan). Terlatarbelakangi konsep hidup yang demikian ini, KH. Ahmad Sahal, satu dari Tri Murti pendiri salah satu pondok lagendaris Indonesia, Gontor, ‘mendoktrin’ para santri memiliki motto hidup, “Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja”. Tergambar betapa kerasnya benturan yang akan dihadapi dalam kehidupan ini. Dan nyatanya demikian. Kita dapati rentetan benturan peradaban yang silih berganti. Peperangan antar bangsa, agama, budaya, politik dan sektor lainnya masih menjadi ‘tontonan’ panggung dunia. Kita lihat Palestina masih dalam cengkraman penjajah Israel. Kita temui kaum muslimin Rohingnya, terintimidasi dan terusir dari bumi pertiwi mereka. Kita juga masih mendapati berita, bahwa masih banyak kaum muslimin di penjuru dunia, sekedar untuk melaksanakan sholat saja mereka kesulitan. Di tingkat lokal (Indonesia), anak negeri kewalahan menghadapi gempuran budaya barat yang begitu permisif terhadap kebebasan tanpa batas. Maka yang terjadi kemudian, para pemudi terbiasa pakaian serba seksi, bahkan tidak sedikit yang telah terjerat dalam pergaulan bebas, baik itu berupa narkoba hingga seks bebas. Budaya Indonesia (khususnya Islam) tidak mengenal bahkan melaknat budaya macam ini. Tapi inilah yang terjadi di lapangan. Pertarungan terus bergulir. Dan benturan ini akan terus terjadi sepanjang masa hingga hari kiamat. Hal ini telah menjadi ketetapan Allah, sebagaimana yang tersirat dari firman-Nya; "Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka." (Al-Baqarah: 120). Syarat Menang Untuk tampil sebagai pemenang pertarungan peradaban ini, maka tidak ada pilihan, kita harus tampil menjadi aktor utama, layaknya pemeran utama yang ada di film-film laga. Langkah yang ditempuhpun sama; Kita harus terus mengasah kemampuan dan keterampilan diri dari hari ke hari. Bedanya dengan dunia film, kemenangan kita tidak bisa direkayasa oleh sang sutradara, tapi harus direrencanakan. Tidak pula akan ditentukan oleh banyaknya kuantitas, tetapi sejauh mana kualitas yang dimiliki. Arus perubahan harus dibuat sehingga tidak hanyut dengan arus yang ada. Untuk ini Allah telah mengingatkan; “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka,” (Ar Raad : 11). Semakna dengan bunyi ayat di atas, Imam Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata; “Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”. Dan sebagai langkah pertama untuk merealisasikan terwujudnya kemenangan, maka pendalaman atau penguasaan ilmu menjadi syarat utamanya. Masyarakat Indonesia, khususnya kaum muslimin, harus lebih giat lagi untuk menuntut ilmu. Mari kita tingkatkan belajar. Sesungguh hanya dengan ilmulah kita mampu mengalahkan peradaban-peradaban lain. Semakin akrab kita dengan ilmu pengetahuan, maka peluang untuk membalikkan kekalahan kita saat ini sangatlah besar. Kaum muslimin mampu tampil sebagai penguasa dunia hingga ratusan abad lamanya, karena pada masa itu mereka sangat menguasai ilmu-ilmu pengetahuan. Begitu pula Jepang; mereka mampu bangkit setelah hancur berkeping-keping akibat ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, dikarenakan penguasaan mereka terhadap ilmu pengetahuan, khususnya tekhnologi. Kini tidak lagi kita dapatkan di dua kota itu bekas-bekas kehancuran, yang ada bangunan-bangunan yang menyimbolkan kedigdayaan satu Negara. Jadi, sampai di sini, masihkah kita bermalas-malas untuk meningkatkan kualitas diri? Wallahu ‘Alamu Bish-Shawab

No comments:

Post a Comment